Skip to content

Ini Budi

August 10, 2010
tags:

Obrolan tentang Budi, nama yang paling sering disebut-sebut dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD pada 1980-an bermula ketika saya ngobrol di Internet dengan teman lama.

“Sekolah skarang overpriced, sok ribet. Sebel gue. Apa gak ada sekolah sederhana kayak jaman dulu.”

Di Indonesia, 10 tahun terakhir (saya baru selama ini mengamati) untuk masuk TK, anak sebaiknya sudah bisa mengenal abjad. Saya ingat teman saya yang syok ketika TK terdekat dari rumah kontrakannya menguji anaknya dengan pertanyaan, “Coba ceritakan jalan pulang menuju rumahmu dari sini.” setelah ujian membaca.

“Anaknya adik gue udah bisa mengeja pake Bahasa Inggris, tapi Bahasa Indonesia nggak bisa.” Tambah teman saya tadi. “Ancur lah.. Gak kenal Keluarga Budi.”

Budi yang kemudian kami bahas, adalah tokoh utama dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar di Indonesia pada era 1980. Penerbitnya adalah PN Balai Pustaka. Balai Pustaka adalah penyedia buku paket untuk sekolah dasar pada 1980-an.

Waktu SD, saya merapal “Ini Budi” dan belajar betapa harmonisnya keluarga Budi. Betapa perempuan yang baik memasak dan mengurus anak dan laki-laki baca koran ketika semua itu terjadi. Budi punya adik Ima dan Andi. Ketika pelajaran makin kompleks, muncul tokoh Arman dan Iwan. Entah ke mana Ima.

Saya ingat nama seorang teman asal Jawa Barat. Dia juga dipanggil Arman. Saya curiga nama asli Ima adalah “Imah”, tapi supaya keren ditulis dan disebut “Ima”. Jangan-jangan penulis asli buku ini orang Sunda 😀

Melihat jumlah anak dalam keluarga Budi, nampaknya keluarga berencana atau KB, bukan prioritas utama. Anak perempuan juga bukan produk unggulan..

Saya tidak tahu, seberapa banyak kontribusi buku paket wajib ini dalam penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, mengingat Wikipedia Indonesia mencatat ada 748 bahasa lain di Indonesia yang digunakan sebagai bahasa ibu oleh orang Indonesia. Sampai sekarang, banyak teman saya yang masih menggunakan bahasa daerah mereka, termasuk saya. Tidak terhitung jumlah penutur asli Indonesia yang masih menyambung kata “disini”, meskipun “di” adalah preposisi yang menunjukkan lokasi dan harus terpisah penulisannya.

Saya yakin generasi Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir tidak kenal Budi karena dunia penerbitan Indonesia sekarang sangat kompetitif, termasuk untuk sektor pendidikan dan urusan membaca. Buku pelajaran anak sekolah di Indonesia juga makin mutakhir karena tidak lagi terbit hanya dalam Bahasa Indonesia.

Ada banyak cara membaca cepat, bahkan untuk para bayi, tanpa perlu kenal si Budi.

* Sumber gambar: http://ngerumpi.com/images/medium/wehehehe-masih-ada-lagi-kisah-wati-budi-dan-iwan-di-buku-ini.jpg

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. yazz permalink
    August 11, 2010 8:58 AM

    Ha ha ha ha ha ha ha! Nganggur lu! Bukannya mestinya banyak kerjaan terjemahan?

  2. March 12, 2012 11:58 AM

    yaolo sampul buku itu…. !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: