Skip to content

Madu dan Racun

November 21, 2008
tags:

Suatu malam, seorang teman mengajak makan malam di sebuah restoran Italia di tempat yang nggak murahan. Jelas, karena tiap orang setidaknya harus mengeluarkan US$ 20 untuk seporsi hidangan utama dan segelas anggur. Ini harga paling dasar. Kalau pesan sebotol, tentu lebih dari harga tersebut. Intinya, tempat yang berkelas. Meski pemandangan televisi tipis layar datar nyaris sebesar papan tulis di bagian depan rumah makan terasa sedikit menganggu lampu yang rada temaram.

Pramusaji melayani kami dalam Bahasa Inggris tanpa aksen. Mengangsurkan roti dengan minyak zaitun yang rasanya lebih enak dari roti lokal. Ketika hidangan utama tiba, lamat-lamat terdengar musik. Wah, bagus.. ada lagu. Pasti musik klasik. Atau sejenisnya..

Entah kenapa telinga saya menangkap sesuatu yang sangat akrab di telinga dan jelas bukan musik klasik..

Oh telingaku.. sakitnya mendengar “Madu dan Racun” versi bahasa Birma..

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: