Skip to content

“Tu dia ho dung mate ho..”*

June 6, 2008
tags:

Temen gue punya keluarga besar sarat rutinitas adat dan budaya. Mereka setia memeliharanya hingga jaman moderen. Kali ini ada cerita tentang kuburan. Biasanya, tentang arisan yang bisa berjalan sekian kali dalam sebulan dengan dress code tertentu yang harus dipatuhi.

“Lu tau gak.. sekalinya ke kuburan bokap mertua gue, kaga cukup tuh 200 rebu!” Ujarnya seraya menunjuk pada kembang mawar gadis manis di kantor, hasil kiriman pacar setia. “Mawar kayak gini nih.. Lalu, abis gitu mampir beli minuman di tukang teh botol.. Lu bayangin aja kalo satu keluarga isinya 23 orang. Belon termasuk anak-anaknya. Tambah bedinde-bedinde.. Kebayang dong pengeluaran gue berapa??” Dia mengaku gak mau keluar duit tiap kali ke kuburan.

Tahun ini satu tahun wafatnya mertua dia. Sang kakak ipar bertanya, “Eh kamu kan sering bikin suvenir untuk kantor. Tanya dong, berapa tuh kalo bikin kaos gambar papi?” Temen gue langsung jatoh dari kursi. “Gue cuman dikasih budget sejuta setengah..”

Sebagai tambahan, kuburan juga tempat ketemu jodoh. Dia cerita, salah satu keluarganya ketemu jodoh akibat ada dua keluarga besar sedang visite ke kuburan dan ada dua jomblo yang saling ketemuan.

Oh kuburan..

+++

“Tu dia ho dung mate ho..” (Batak languange), means “Where would you go after you die.”

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: